Posted By Admin on April 10, 2010
Jika ziarah di kota Madinah, ingatlah bahwa anda sedang berhadapan dengan segala keutamaan kota Madinah yang membuat akal takjub, kerinduan yang menyala dan hati tergoda.
Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
” Sesungguhnya iman masuk ke dalam kota Madinah, sebagaimana ular masuk ke dalam gua persembunyiannya “
Jadi, kota Madinah serupa dengan tempat persembunyiaan dan menetapnya iman. Tiap kali iman seseorang berada dalam titik lemah atau payah, hendaklah dia menuju kota Madinah. Maka di kota Madinah itu dia akan memperbarui imannya, sebagaimana ular mendapat semangat baru dalam beraktivitas saat masuk ke dalam gua persembunyiannya setelah mengalami kelelahan beraktivitas di dunia luar.

Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
” Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.”
Menurut Imam Nawawi, keutamaan shalat ini mencakup shalat fardhu dan sunnah. Demikian pula saat di Makkah (Masjidil Haram).
” Sesungguhnya di segala lubang penjuru Madinah terdapat para malaikat, sehingga Madinah tak bisa diterobos oleh penyakit sampar dan dajjal.”
” Barang siapa diberi keleluasaan untuk meninggal di Madinah, maka hendaklah dia meninggal di sana. Sesungguhnya, aku memberikan syafaat bagi orang-orang yang meninggal di Madinah.”
Oleh karena itu, para sahabat tak ingin wafat di luar Madinah. Mereka pun berdoa kepada Allah agar Allah berkenan mencabut nyawanya di Madinah. Dalam Shahih Bukhari dituturkan bahwa Umar bin Khattab pernah berdoa,
” Ya Allah, anugerahkan aku agar syahid di jalan-Mu. Engkau jadikan kematianku di tanah Rasul-Mu.”
Sementara, dalam redaksi riwayat lain dituturkan,
” Ya Allah, karuniakan aku agar syahid di jalan-Mu. Aku mohon kematianku terjadi di tanah mulia milik Nabi-Mu.”
Dan Allah telah mengabulkan doa Umar.
Coba anda perhatikan shalat Shubuh di Masjid Nabawi, maka betapa indah tontonan itu, dan betapa mulia keelokan itu.
” Demi zat yang berkuasa atas diriku, salah seorang diantara mereka tidak keluar lantaran membenci Madinah kecuali di kota itu Allah menggantinya dengan seseorang yang lebih baik darinya….Ketahuilah, sesungguhnya Madinah bagaikan alat peniup api yang mengeluarkan kotoran.”
Bahkan, ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz keluar dari Madinah, dia menatapnya sejenak lantas menagis. Kemudian sang khalifah berkata kepada pembantunya, ” Wahai para pesaing (dalam amal kebajikan), aku khawatir bila aku termasuk orang yang jauh dari Madinah.”
” Tak seorang pun bisa memperdaya penduduk Madinah kecuali dia akan melebur, sebagaimana meleburnya garam di dalam air. “
” Barang siapa yang menakut-nakuti penduduk Madinah, niscaya dia menakut-nakuti sesuatu yang ada diantara sisiku.”
Keterangan dari Nabi ini tidak menyangkut pandangan tenttang tanah lain selain kota Madinah. Dengan begitu, anda jadikan pegangan tentang keutamaan kota Madinah yang melebihi kota Makkah.
” Barang siapa yang menakut-nakuti penduduk Madinah, niscaya Allah menakut-nakuti dirinya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah.
Sebuah riwayat menyatakan bahwwa seorang penguasa zalim pernah mengunjungi kota Madinah. Sementara itu, Jabir adalah seorang lelaki yang matanya telah buta. Seseorang berkata kepada, ” Seandainya kamu menyingkir darinya. “ Lantas Jabir pergi dan berjalan acuh tak acuh sambil berkata, ” Celakalah orang yang menakut-nakuti Rasulallah. ” Putranya bertanya, “ Bagaimana bisa, sedangkan Rasulallah telah wafat.” Jabir menjawab, ” Aku pernah mendengar Rasulallah bersabda….” Jabir lantas menyebut hadits diatas.
Cukuplah hadits tersebut mencakup tentang sebaik-baiknya tanah di muka bumi, dan ini sudah menjadi ijma’ para ulama. Kota Madinah merupakan kota yang menghimpun jasad Nabi. Oleh karena itu, Madinah disebut kota yang harum, karena jasad Nabi telah menebarkan harum secara mutlak.
Al-Qadhi bin Iyadh (w. 544 H) berkata, ” Tidak ada pertentangan bahwa tempat kubur Nabi merupakan tempat yang paling utama di muka bumi. “
Sumber : Buku Dahsyatnya Umrah
Category: Dunia Islam |
No Comments »
Tags: Madinah, Ziarah di Kota Suci