Nama-nama Yang Dicintai Oleh Allah dan Rasul-Nya
Written by ibnuabbas on January 14th, 2010Nama-nama yang paling dicintai Allah ialah: Abdullah dan Abdurrahman. Dan telah sepakat para ulama tentang disukainya memberi nama yang di-idhafah-kan (dikaitkan) dengan nama dan sifat Allah seperti dua nama di atas dan yang serupa dengan keduanya seperti Abdul Hakim.
Yang kedua, yang termasuk nama-nama yang dicintai dan disukai ialah nama-nama para nabi dan rasul berdasarkan hadits yang dikeluarkan Muslim (6/171) dari jalan Mughirah bin Syu’bah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
” Sesungguhnya mereka bisa menamakan (anak-anak mereka) dengan (nama) nabi-nabi mereka dan orang-orang yang shalih sebelum mereka.”
Adapun nama-nama para nabi dan rasul yang mulia ‘alaihimus shalaatu was salaam ialah:
1. Adam
2. Idris
3. Nuh
4. Hud
5. Shalih
6. Ibrahim
7. Luth
8. Syu’aib
9. Ismail
10. Ishaq
11. Ya’qub
12. Yusuf
13. Musa
14. Harun
15. Daud
16. Sulaiman
17. Ayyub
18. Ilyas
19. Ilyasa’
20. Yunus
21. Zakariyya
22. Yahya
23. Isa
24. Dzul Kifli
25. Muhammad
Yang ketiga dari nama yang dicintai Allah dan Rasul-Nya ialah:
1. Nama-nama yang menunjukkan bahwa manusia adalah hamba Allah. Yakni ada sifat Al ‘Ubudiyyah (penghambaan hamba) kepada Rabbul ‘alamin. Seperti dua nama yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Abdullah dan Abdurrahman yyang sama dengan keduanya. Bukan nama-nama yang menunjukkan penghambaan hamba kepada mahluk sebagaimana akan saya jelaskan dengan luas di masalah ketiga Insya Allahu Ta’ala.
2. Atau nama-nama para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya di sisi ‘Azza wa Jalla.
3. Atau nama-nama yang bagus maknanya menurut Syara’ (Agama). Bukan nama-nama yang diharamkan atau dimakruhkan oleh Syara’.
Ketahuilah, Barang siapa yang memperhatikan dan mempelajari Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sungguh-sungguh dalam masalah pemberian nama ini, niscaya dia akan mendapati:
Pertama: Bahwa Nabi yang mulia shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat mementingkan sekali dan memperhatikan betul-betul masalah pemberian nama kepada sesuatu, baik kepada manusia, orang-perorangnya atau suku-sukunya dan nasab-nasabnya atau kepada tempat-tempat, kota-kota dan negeri-negeri atau kepada gunung-gunung dan binatang dan seterusnya. Seringkali kita jumpai di dalam Sunnah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:
Siapa namamu ?
Siapa nama bapakmu ?
Siapa nama anakmu ?
Apa kabilahmu (sukumu) ?
Apa nama tempat ini ?
Apa nama gunung ini ?
Kedua: Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi nama kepada sesuatu yang sesuai dengan dzatnya, manusia dengan nama yang cocok bagi manusia bukan dengan nama-nama hewan. Dan begitulah seterusnya
Ketiga: Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila memberi nama, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi nama yang sangat bagus sekali maknanya yang tidak mensucikan diri orang tersebut dan yang tidak merendahkannya. Akan tetapi nama-nama yang mempunyai makna dan arti yang menimbulkan semangat dan pengharapan, contohnya seperti “Sahl” yang artinya mudah (diharapkan segala urusannya dunia dan akhiratnya akan dimudahkan Allah Subhanau wa Ta’ala). Sebagaimana ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah antara Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan kaum musyrikin, maka sebagai juru bicara kaum kuffar adalah Suhail bin Amr, ketika Suhail datang untuk mengadakan perjanjian.
Perhatikanlah, bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menumbuhkan pengharapan terhadap seorang yang namanya mempunyai arti dan makna yang bagus sekali yaitu kemudahan hatta dia seorang yang kafir.
Benarlah apa yang telah dikatakan Syaikhul Islam kedua yaitu Al Imam Ibnu Qayyim, “Barang siapa yang memperhatikan Sunnah niscaya dia akan dapati bahwa makna-makna di dalam nama-nama itu terkait dengannya, sehingga seolah-olah nama-nama tersebut merupakan pecahan dari maknanya. Perhatikanlah sbda beliau ‘alaihis shalaatu wa salaam: Aslam, semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifaar semoga Allah mengampuninya dan ‘ishiyyah telah durhaka kepada Allah.
Sumber: Buku Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti oleh Abdul Hakim Bin Amir Abdat
Mau bagi informasi tentang 